Pengamat sepak bola politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Ferry Daud Liando mengatakan, sepak bola bukan hanya olahraga, tetapi juga bisa meredam konflik yang muncul di suatu negara. Sepak bola juga dapat meningkatkan kesolidan dan kekompakan rakyat yang tadinya terpecah-belah akibat sebuah konflik.

“Kalau sepakbola dikaitkan dengan politik ya ada kaitannya. Sepakbola bukan hanya sekedar olahraga, tetapi juga sudah merambah ke industri, ke ekonomi dan ke politik. Kalau kita melihat korelasi antara sepakbola dengan politik di negara-negara, cukup dekat sekali,” ucap Ferry Daud Liando di dalam acara talkshow virtual yang diselenggarakan oleh Komite Pemilih Indonesia pada Sabtu, 10 Juni 2021.

 Dia mencontohkan kasus Katalunya di mana ibu kota Barcelona menginginkan kemerdekaan dari Spanyol. Saat itu, diadakan referendum untuk menentukan sikap masyarakat Barcelona, ​​apakah ingin meninggalkan Spanyol atau tidak. 

Hasilnya bahwa 90% dari Barcelona mengatakan mereka ingin meninggalkan Spanyol.

“Tapi hasil referendum itu kemudian redup. Kenapa redup, karena sepakbola. Karena tim Spanyol didalamnya ada beberapa pemain dari Barcelona. Padahal saat itu hubungan Spanyol dengan Barcelona sudah cukup panas. Tapi meredup, karena masyarakat Spanyol dan Barcelona mendukung tim sepakbola Spanyol. Jadi hanya gara-gara bola, konflik bisa diredam,” ucapan dari Ferry Daud Liando.

Kemudian di Prancis, Ferry melanjutkan. Pada tahun 2018, tema intoleransi rasial berkembang. 

Orang-orang di negara ini sangat sensitif tentang warna kulit dan agama. Kemudian muncul isu imigran yang tidak menikmati kesempatan yang sama dan isu anti-Muslim. 

Juga, setahun sebelumnya, Prancis baru saja mengadakan pemilihan presiden (Pilpres) yang diwarnai isu SARA, ini mirip dengan kondisi di mana Indonesia menggelar pemilihan presiden 2019. Namun konflik yang terjadi antarmasyarakat tergerus saat pesepakbola tim Prancis berlaga di final Piala Dunia 2018. 

“Jadi setelah pilpres, kondisi Prancis sama seperti Indonesia, terpolarisasi, sangat sensitif dengan isu-isu warna kulit dan agama. Tapi setelah tim sepakbola Prancis masuk final, (konflik) redup juga. Ini membuktikan sepakbola adalah nomor satu,” kata Ferry Daud Liando.

Sayangnya, kata pengamat sepak bola Ferry, hal itu tidak terjadi di Indonesia, karena tim sepak bola Indonesia tidak bisa meraih hasil di pertandingan internasional, bahkan di Asia pun tidak, sehingga kekuatan dan kohesi masyarakat Indonesia cenderung rapuh dan sensitif. .

“Salah sedikit ada isu agama, salah sedikit langsung dilapor. Karena memang kita sangat sensitif. Karena memang tidak ada instrumen yang mempersatukan kita. Sebuah mimpi dan keinginan bersama, tim sepakbola Indonesia bisa berprestasi di tingkat Asia lah, kalau Piala Dunia terlalu jauh. tapi sayang kondisi ini tidak bisa kita rasakan,” imbuh Ferry Daud Liando.

Namun, Ferry melihat pertandingan Euro 2020 dan Copa America 2021 telah menjadi penyelamat bagi Indonesia karena masyarakat Indonesia terpecah dalam hal mendukung Palestina dan Israel.

 “Akhirnya dengan Piala Eropa, masyarakat yang memberikan simbol dukungan baik itu ke Palestina atau Israel, telah menggantikan bendera dukungan di media sosial mereka ke bendera negara-negara peserta Piala Eropa yang mereka dukung. Dan televisi pun sudah berkurang membahas isu Palestina dan Israel, diganti dengan Piala Eropa. Jadi sepakbola sangat luar biasa dalam mempersatukan rakyat dan menjadikan negara solid,” Ferry menambahkan.