Sejak diluncurkan pada tahun 2016 lalu, pengembangan kebijakan Pusat Logistik Berikat (PLB) memang dinilai berhasil dalam menekan biaya logistik nasional. Kehadiran PLB juga dianggap mampu menjaga harga bahan baku industri dan kebutuhan pokok tetap stabil.

Karena mampu memberikan dampak yang positif bagi perekonomian Indonesia, kebijakan PLB ini akan diperluas cakupannya dan dipertegas regulasi perpajakan yang menaunginya. Untuk mengetahui perkembangan dan pencapaian PLB secara lebih jelas, berikut ulasannya.

Perkembangan dan Pencapaian Pusat Logistik Berikat (PLB)

Pengertian PLB sendiri yaitu gudang multifungsi yang digunakan untuk menyimpan dan menimbun barang yang berasal dari luar daerah pabean atau tempat lain yang ada di dalam kawasan pabean yang bisa disertai dengan satu atau lebih kegiatan sederhana dalam jangka waktu tertentu.

Kegiatan penyimpanan barang pada PLB diberikan jangka waktu paling lama 3 tahun sejak barang dimasukkan ke PLB dan penangguhan bea cukai, serta pajak impor.

Pada kinerja PLB generasi pertama, penyimpanan diperuntukkan bagi alat permesinan (machinery) dan bahan baku (raw material). Hingga saat ini, terdapat setidaknya 55 perusahaan yang berada di 75 lokasi PLB yang tersebar dari daerah Aceh hingga Sorong Papua.

Semua PLB ini juga sudah dilengkapi fasilitas dan full utilisasi dengan nilai barang yang ditimbun dalam bentuk inventory mencapai 2,5 miliar US Dollar. Barang-barang yang ditimbun di PLB berasal dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik seperti Jepang, Singapura, China, dan negara lainnya.

Dampak Perluasan PLB

Kehadiran PLB rupanya memberikan dampak terhadap aktivitas pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan utama. Pelabuhan Tanjung Priok ini menjadi tempat transit sebelum nantinya barang-barang tersebut akan dikirimkan ke PLB.

Dengan hadirnya PLB, biaya yang dibutuhkan untuk logistik dan transportasi menjadi lebih hemat dan efisien. Selain itu, PLB juga membantu mendukung pemangkasan dwelling time atau bongkar muatan barang yang dilakukan di pelabuhan.

Dengan begitu, PLB bisa membantu menghemat sewa penimbunan. Karena dampak positif yang diberikan, pemerintah memiliki rencana untuk melakukan perluasan dengan menambah beberapa lokasi PLB.

Pada 27 Maret lalu, Joko Widodo selaku Presiden Indonesia mengeluarkan kebijakan baru yaitu pengembangan PLB Generasi 2. PLB G2 ini bertujuan untuk mengakomodasi supporting terhadap industri dalam mengakselerasi ekonomi digital, distribusi, hub logistik, dan ketahanan nasional.

Dengan adanya Pusat Logistik Berikat (PLB) yang diperluas, maka diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, khususnya di bidang logistik. Untuk mengetahui informasi penting seputar PLB, cek websitenya sekarang juga di https://www.iiie.co.id/.