Masyarakat di daerah yang masih kental dengan nilai-nilai adat dan agama biasanya akan berusaha menyelesaikan suatu masalah besar dengan berdoa kepada Tuhan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Budaya Indonesia sendiri terkenal dengan berbagai tradisinya untuk memecahkan masalah besar dan mengancam, salah satunya di Desa Tegalgubug, Arjawinangun, Cirebon.

Desa memiliki tradisi khusus yang biasanya digunakan untuk menyelesaikan masalah besar yang berkaitan dengan masyarakat luas, yaitu tradisi Baritan. Menurut warga sekitar, tradisi Baritan sudah turun temurun untuk menyikapi isu-isu besar yang mengancam warga, seperti wabah Corona yang kini merebak di berbagai wilayah Indonesia.

Anda sedang membutuhkan Rental mobil murah Cirebon dan sekitarnya? Bisa klik pada link tersebut.

Tradisi Baritan adalah tradisi yang didasarkan pada doa kepada Allah SWT dan doa kepada Nabi Muhammad SAW. Seperti yang terjadi di Desa Tegalgubug Utara, Kabupaten Cirebon, Selasa (17/3) malam, ribuan warga Desa Tegalgubug memadati jalanan.

Ia memiliki tradisi Baritan sebagai ungkapan doa dan perlawanan pasukan untuk melawan wabah virus corona Covid-19 di Indonesia, termasuk Cirebon. Dari kecil hingga dewasa, mereka bahu-membahu mendukung dan berdoa agar wabah corona Covid-10 tidak menyebar lagi.

Berkeliling Menggunakan Obor

Tradisi Baritan merupakan tradisi yang sudah lama dilakukan oleh masyarakat Desa Tegalgubug Utara. Tradisi ini dilakukan setiap kali ada masalah besar, seperti saat ada wabah penyakit seperti saat ini. Tradisi ini dilakukan dengan jalan keliling desa menggunakan obor sambil berdoa.

“Ini bukan acara pertumpahan darah atau silaturahmi yang tidak berguna, tapi arak-arakan, kita bagian dari tradisi. Para pejalan membawa obor sambil membaca Solawat Tho’un,” kata Rifqiel Asyiq, tokoh masyarakat setempat.

Sebagai Respon Masyarakat dalam Keadaan Darurat

Tradisi Baritan merupakan salah satu cara masyarakat Tegalgubug Lor untuk merespons bahaya yang akan datang, seperti wabah korona (kovid-19) yang saat ini sedang terjadi di Indonesia. Kegiatan ini sudah mendapat izin dari aparat desa setempat sehingga bisa dilakukan dengan cepat.

Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Tegalgubug Lor sejak puluhan tahun lalu dengan bimbingan para sesepuh dan leluhur. Menurutnya, tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Tegalgubug.

“Sekitar tahun 1990-an, wabah apa itu, saya lupa banyak, tapi saya mengalami masa itu dan kemudian orang-orang melakukan tradisi ini bersamaan dengan membaca Solawat Tho’un dan Alhamdulillah, wabah ini hilang,” katanya.

Memengaruhi Aspek Psikologis Masyarakat Setempat

Dalam melaksanakan tradisi dan sembahyang ala Baritan ini berfungsi untuk memperkuat situasi psikologis agar masyarakat tidak panik dan takut, sehingga lebih arif dalam menghadapi situasi seperti sekarang ini.

Dari sudut pandang agama, membaca doa sangat baik dan harus dianjurkan untuk menghindari semua penyakit dan bahaya di dunia ini. Ia juga mengimbau masyarakat Cirebon untuk mematuhi anjuran pemerintah tentang pola hidup sehat.

Kami juga menyediakan Rental mobil Cirebon dan sekitarnya.

“Seperti rutin cuci tangan, makan dan tidur, tetap kita ikuti dan tidak serta-merta memberi kesan terhadap apa yang telah ditetapkan pemerintah tentang peringatan corona. Tradisi ini juga memiliki maksud dan tujuan yang baik.

Tradisi ini tidak hanya dipraktekkan di Desa Tegal Gubug, tetapi di desa tetangga, desa kami banyak terjadi sehingga bisa menjadi sorotan di media sosial,” pungkasnya.