Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang banyak dipakai oleh orang di dunia untuk alasan yang berbeda. Bahasa ini juga jadi bhs yang dipakai di dalam sidang PBB atau pertemuan diplomat para tokoh pemerintah dunia. Meski tidak seluruh negara berkata Bahasa inggris, tapi tersedia yang menjadikan bhs ini sebagai bhs resmi kedua mereka, layaknya di Malaysia dan Singapura.

Di Indonesia, banyak orang yang fasih atau sekadar bisa bercakap memanfaatkan Bahasa Inggris. Jika menginginkan bisa memanfaatkan bhs Inggris, terlebih dahulu kami harus mempelajari dan menguasai empat keterampilan berbahasa Inggris yakni berkata (speaking), mendengarkan (listening), membaca (reading), dan menulis (writing).

Dari keempat kompetensi tersebut, berkata merupakan kemampuan yang sering menghadirkan permasalahan bagi penduduk Indonesia. Banyak orang Indonesia menghadapi beberapa persoalan umum di dalam berkata bhs Inggris.

Masalah pertama yang dihadapi adalah kurangnya rasa yakin diri. Kepercayaan diri tetap jadi momok bagi para pembelajar bhs Inggris, kendati sudah dipelajari sejak di tingkat sekolah dasar. Beberapa dari mereka kemungkinan menyadari grammar bhs Inggris dengan sangat baik dan apalagi mendapat nilai tinggi di dalam ujian, tapi keterampilan berkata mereka sangat buruk.

Alasan utama di balik permasalahan ini adalah penduduk Indonesia atau apalagi para pembelajar khususnya, tetap sering sangat malu untuk memulai obrolan dengan bhs Inggris dan takut salah. Ada analisis orang lain dapat menertawakan mereka. Hal ini mengakibatkan mereka hindari berkata bhs Inggris di depan orang lain.

Selanjutnya, beberapa besar orang Indonesia tetap belum punyai kosakata bhs Inggris yang memadai. Hal ini gara-gara stimulus membaca mereka yang kecil. Padahal, sangat perlu bagi seorang pembelajar untuk membaca teks bhs Inggris untuk memperdalam kosakata, frase, atau idiom baru.

Hal tersebut mengakibatkan mereka sulit untuk mengutarakan suatu hal akibat perbendaharaan kosakata yang tidak cukup memadai. Faktor lainnya adalah bhs ini bukan bhs pertama kami sebagai penduduk Indonesia. Jadi, tentu saja, kuantitas kata bhs Inggris yang kami punyai di dalam kosakata kami tidak dulu memadai kecuali menginginkan disamakan dengan penutur asli bhs tersebut.

Masalah lain yang dihadapi orang Indonesia sementara berkomunikasi di dalam bhs Inggris adalah kurangnya latihan. Mereka berpikir bahwa keyakinan diri mereka untuk berkata bhs Inggris rendah dan kosakata bhs Inggris mereka tidak mencukupi. Hal ini yang mengakibatkan mereka kehilangan minat untuk berlatih bhs Inggris.

Kondisi diperparah dengan lingkungan atau circle mereka yang tidak mendukung. Lingkungan biasanya tidak menunjang mereka untuk sering mempraktikkan bhs Inggris. Orang lain atau apalagi rekan sendiri kemungkinan berpikir bahwa mereka yang berkata bhs Inggris hanya menginginkan pamer saja.

Akhirnya, gara-gara tidak menginginkan diakui si-paling-pinter oleh orang lain di sekitarnya, mereka kembali memanfaatkan bhs ibu di dalam obrolan sehari-hari. Secara umum, negara lain yang tidak menjadikan bhs Inggris sebagai bhs kedua ataupun bhs resmi di pemerintahan dapat banyak menghadapi kendala yang tidak cukup lebih mirip layaknya yang dialami oleh kebanyakkan penduduk Indonesia.